Cute Onion Club - Onion Head

Kamis, 02 Oktober 2014



                        PAJAK DI NEGARAKU

Hari semakin siang, suara-suara berisik dari dalam kelas sangat terdengar jelas menyemarakan siang yang begitu panas di hari itu, angin berhembus dengan tenangnya menuju selah-selah setiap ruangan.
Alex berlari mengejar guru bahasa inggris yang baru saja keluar dari ruang kelasnya.
“ibu serius nih saya terpilih menjadi salah seorang dari mereka?”. Tanya Alex girang
“tentu saja, bukankah sejak lama kamu sudah memimpikannya ?”. Jawab guru itu
“iya sih bu tapi apakah saya pantas menjadi salah seorang dari mereka ?”.
“ya kamu sangat pantas Alex, nanti sepulang sekolah kamu jangan pulang dulu, karena Bapak kepala sekolah ingin bertemu denganmu!”.  Sambil berlalu meninggalkan Alex yang masih bergeming tanpa kata
Alex hanya  terdiam saat mendengar guru bahasa inggris itu mengucapkan kata terakh irnya. “Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan juga”. Ucapnya dalam hati .
Kringggggggggggggg !!!!!!!!!... Bel pulang telah berbunyi. Siswa-siswi mulai berhamburan meninggalkan kelasnya masing-masing. Alex masih berdiam diri dikelas, tanpa dia sadari guru bahasa inggrisnya sudah berada di dalam kelas .
“Alex coba ikut saya keruangan kepala sekolah!”. Ucap guru bahasa inggris mendongkrak lamuan Alex saat itu.
“Ooooh baik bu”. Seketika Alex langsung menjawab.
Alex mengikuti guru bahasa inggrisnya menuju ruang kepala sekolah, sembari melihat sekeliling halaman sekolah yang sudah nampak sepi, tetapi masih menyisakan setumpuk sampah kertas dan plastik yang masih berserakan. Dilihatnya di sudut sekolah yang jauh dari penglihatannya seorang bapak tua yang menyapu halaman, sepertinya itu tukang kebun yang sudah lama bekerja disekolah.
Tibalah alex di depan pintu ruang kepala sekoalah yang  sudah terlihat tua,
“Ayo alex masuk!”. Ucap kepala sekolah yang terlihat sudah dari tadi menunggu.
Alex melangkahkan kakinya dengan mantap untuk masuk ke-ruang kepala sekolah itu, tanpa mempedulikan baju yang di pakainya sudah lusuh, dan penampilan yang sudah semerawut.
“Alex karena kamu adalah salah satu siswa yang berprestasi, saya harap kamu mau dikirim ke Canada, untuk pertukaran pelajar bulan besok”. Ucap kepala sekolah yang masih terlihat muda membuka pembicaraan di siang itu.
Alex hanya menunduk. “ya pasti mau dong, secara gitu di kirim ke Canada”. Ucapnya dalam hati .
“Sudah kamu jangan bingung, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk belajar”. tutur guru bahasa inggris yang duduk di sebelahnya, seakan-akan bisa membaca pikiran anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas XI SMA itu.
***

Waktu terus bergulir, matahari semakin turun ke arah barat.
Alex pulang ke-rumahnya dengan wajah sumringah, tetapi penampilannya masih tetap terlihat kucel dan amurawut.
“Ehh Alex udah pulang”. Sambut ibunya yang sedang duduk manis di sofa empuk berwarna coklat, sembari menonton TV.
“Iya bu! ibu tau gak aku di kirim ke Canada buat pertukaran pelajar”. Ucap Alex penuh semangat sambil melemparkan tas ransel yang ia pakai hampir seharian ke sekolah, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa persis di sebelah ibunya.
Seketika ibunya membelalak dan menengok ke arah Alex yang masih terlihat sumringah itu ”Selamat sayang, itukan mimpi kamu dari dulu” Ucap ibunya.
Alex tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya .
“Selamat yaa!, ibu bangga mempunyai anak seperti kamu”. Kata ibunya dengan mata yang berbinar-binar.
“Aku ke kamar dulu ya bu!”. Sembari membawa tas yang tadi ia lemparkan ke sofa.
Ibunya tidak menjawab dia hanya diam seribu kata, karena masih belum percaya anak satu-satunya itu akan berangkat ke Canada untuk pertukaran pelajar.

***

Hari-hari dia lewati seperti biasa yang selalu dia lakukan, meski ada beberapa yang berbeda tetapi Alex terlihat semangat menjalani semuanya.
Hingga tiba saat yang sangat di tunggu-tunggu Alex, yang membuat kedua orangtuanya sangat bangga. Tetapi  bukan hanya bangga karena anaknya bisa menjadi salah seorang yang terpilih untuk pertukaran pelajaran saja, bahkan mereka bangga atas prestasi yang sering dia raih.
“Saya berangkat ya bu! dan salamkan pada ayah”. Pamit Alex yang kebetulan ayahnya sedang kerja di luar kota.
“Iya lex ibu pasti akan menyampaikan salammu itu, hati-hati ya lex!”. Kata ibunya sembari meneteskaan air mata.
Alexpun berjalan dengan membawa dua koper di tangan kanan dan kirinya serta satu tas ransel yang selalu dia pakai ke sekolah setiap hari, menuju mobil yang akan mengantarnya ke bandara yang begitu terkenal di kota itu.
Alex masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang tidak karuhan, sebab di samping dia bahagia karna mimpinya bisa tercapai, dia sedih meninggalkan ibunya yang selalu ada dalam hari-harinya, tetapi untuk enam bulan kedepan dia tidah bisa bersama ibunya .
Mobil sudah melaju, Alex masih merenung dan diam tanpa kata, padahal teman-temannya  saling bercanda gurau, hingga sampai ke stasiun yang telihat lengganag di sore itu.
Alex dan rombongan keluar dari mobil AFV dan langsung menuju registrasi pasport untuk cek in, mereka menunggu pemberangkatan pesawat yang akan membawanya terbang ke Canada.
Tepat pukul 16.30 WIB pesawat yang membawa Alex dan teman-temannya lepas kandas menuju Canada. Dalam pesawat Alex hanya terdiam membisu. Teman-temannya menjadi heran mengapa Alex yang yang biasanya selalu ceria tapi sekarang dia hanya bisa diam dan diam.
“Kenapa tuh si Alex diem melulu?”. Ucap salah seorang temannya yang memakai celana jeans berwarna biru dan di padukan dengan baju berwarna hitam bertuliskan “I LOVE YOU CANADA” berwarna putih.
“Mana gue tau”. Ujar teman dekat Alex yang duduknya persis di sebelah kanan Alex.
“Udahlah jangan mikirin si Alex, mending kita tidur biar ntar kalo udah nyampe Canadanya terlihat fresh enggak loyo” Celoteh seorang teman wanitanya.
Tujuh jam sudah berlalu, pesawatpun akhirnya tiba di canada air. Saat turun dari pesawat mereka sangat senang dan sangat menikmati suasana malam di Canada yang baru pukul 20.30 waktu sekitar, hingga Alexpun ikut terbawa suasana yang begitu indah.
Hari pertama mereka lewati hanya dengan beristirahat di sebuah hotel bintang lima di Canada.
Saat malam kedua Alex dan rombongannya berada di Canada, mereka pergi berjalan-jalan di sekitar hotel yang mereka tempati. Mereka menjumpai sebuah kaffe dan beberapa tempat pembelanjaan lainnya. Mereka begitu menikmati suasana malam yang penuh dengan kerlipan lampu-lampu, terjauh dari folusi udara, tidak merasa sumpek dengan kendaraan yang macet, yang sangat berbeda jauh dengan negara asal Alex dan kawan-kawannya.
Saat Alex dan teman-temannya sudah merasa kelelahan mereka langsung pulang menuju hotel bintang lima yang mereka tempati.
***



pagi yang indah kicauan burung-burung bergema bersautan menyemarakan suasanya yang begitu tentram dan damai.
Sinar-sinar surya menyapa penuh manja, mengisi lorong-lorong kegelapan yang selama ini masih tenggelam dalam kesesatan.
Alex membuka pintu jendela kamar hotel yang dia tempati.
Alex menghirup udara segar pagi, lalu menghembuskan karbondioksida dari mulutnya perlahan-lahan beberapa kali, sembari melihat pemandangan sekeliling hotel yang terlihat indah dengan bangunan-bangunan tinggi dan mesin-mesin beroda empat yang berjajar dengan rapih..
Seketika Alex teringat pada suatu negeri tempat kelahirannya, yang penuh dengan polusi udara dan kendaraan-kendaraan yang membuat setiap orang merasa penat saat melihatnya, dan juga mengingat bencana-bencana alam yang diakibatkan oleh tumpukan sampah. Alex merasa negeri kelahirannya itu sangat jauh berbeda dengan negeri yang saat ini sedang ia tempati.
Alex berfikir mungkin pemerintah indonesia belum bisa mengatur dan mengurus perpajakan, padahal jika orang-orang yang berada di atas mau dan menyadari akan pentingnya membayar pajak, dan para pejabat-pejabat negara tidak di butakan oleh korupsi, sehingga masyarakat-masyarakat yang berada pada garis kemiskinan menjadi makmur, dan kebutuhannyapun terpenuhi, mungkin indonesia sudah menjadi negara maju khususnya di wilayah Asia Tenggara.
Tetapi kenyataannya sangat berbeda dengan yang Alex harapkan barusan, dimana orang-orang yang mempunyai uang tidak mau peduli akan pentingnya membayar pajak, dan pemerintah yang memiliki tahta dan jabatan tinggi pun ikut berpartisipasi untuk tidak mempedulikan pentingnya membayar pajak, bahkan mereka sampai berani memakan hak masyarakat untuk memperkaya dirinya sendiri maupun keluargannya agar dapat memuaskan dirinya dari kekayaan itu .
Alexxxxxx!!! .. Panggil seorang teman dekatnya yang kebetulan sekamar, dari dalam ruangan mendongkrak lamunan yang sedaritadi dia pikirkan.
“E,,,.ee,,.eeeh iya ada apa ?” Jawab Alex kaget.
“cepetan luh siap-siap!, bentar lagi kita ke sekolah”. Jawab temannya yang dari tadi melihat gerak-gerik Alex dari dalam.
“Oh iya gue lupa” tutur Alex sambil berlari kedalam dan langsung mengambil anduk untuk pergi mandi...


Saat saat pagi sudah hampir mau habis dan akan di gantikan oleh siang, Alex sudah siap dengan pakaian yang begitu rapi.
“Eh tumben alex rapih banget?” kata salah seorang temannya saat berkumpul di lobby hotel
Alex hanya tersenyum, tetapi diiringi dengan suara tertawa teman-temannya di ruangan itu.
“Heyyy ayo berangkat mobil jemputannya udah dateng tuh!”, ujar teman wanitanya memotong suasana yang begitu ceria saat itu .
Seketika mereka beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju tempat parkir mobil yang akan mereka tumpangi.
Alex dan tiga teman laki-lakinya beserta satu orang teman perempuannya, langsung menaiki mobil yang berwararna hitam mengkilap itu. Saat mobil melaju, Alex dan empat temannya merasa kagum dengan apa yang mereka lihat di balik kaca  jendela mobil yang melanju dengan tenang.
Ingatan Alex langsung kembali pada lamunannya di pagi tadi, dimana dia merasa bahwa negaranya sangat jauh berbeda dengan apa yang sedang ia lihat barusan di balik jendela mobil Alphard yang akan membawanya pada sebuah sekolah terkenal di Canada.
“Coba Indonesia bisa ngurusin pajak negara yang kaya akan sumber daya alam itu, mungkin indonesia bisa lebih maju dan lebih indah di banding negara ini”. Ujar Alex dengan mata yang menatap ke arah bangunan-bangunan tinggi dan seekeliling jalan yang mereka telusuri pada hari menjelang siang tersebut.
“Gue setuju tuh sama pendapat lo barusan lex, bahkan gue heran mengapa rakyat indo nesia yang berada di atas makin  rakus aja sama uang negara, padahal di lain sisi banyak juga rakyat indonesia dari kalangan perekonomian yang rendah semakin melarat”. Ucap teman sekamarnya.
“Rasanya gue pengen deh negeri tempat kita lahir itu menjadi seperti ini, dimana orang-orang yang mempunyai gaji tetap, sebelum gajinya di alirkan pada seorang pekerja, perusahannya tersebut selalu memotong gaji karyawan tersebut untuk di bayarkan pada kas negara (pajak penghasilan)”. Tutur teman wanitanya.
“Percuma dong kalo masyarakatnya selalu membayar pajak dengan tertib, tapi pejabat-pejabat negaranya masih terbutakan oleh kurupsi”. ujar teman Alex yang duduk di depan dengan seorang supir.
Sedangkan kedua teman alex lainnya tidak ikut berbicara pada argumen saat itu, mereka hanya memainkan game pada ipad masing-masing.
“Kalian lagi pada ngomongin apa sih?”. Celoteh salah satu temannya yang sedang bermain game itu.
“Yah lo kemana aja, dari tadi kita tuh lagi ngebandingin Indonesia sama Canada”. Jawab Alex kesal.
“Ha... .ha... ha”. Temannya tertawa.
“Loh kok malak ketawa?”. Ucap  Alex semakin kesal.
“Yah lagian lo ngebandingin indonesia sama Canada sih, ya jelas jauh beda dong!”. Tutur temannya yang sedang tertawa.
Alex hanya terdiam, merenungkan mengapa negara Indonesia seperti itu.

***

Mobil Alpard itu telah sampai di sebuah sekolah terkenal yang bernama “BRANKSOME HALL” yang mereka tuju. Mereka langsung keluar dari mobil dan menuju ruang kelas yang sudah ditentukan. Dimana kelas itu dipenuhi ratusan siswa-siswi dari berbagai negara untuk mengikuti pertukaran pelajar.
Waktu semakin berlalu mereka saling bercengkrama dan bercanda gurau.
Tak terasa hari sudah berganti menjadi sore, dan tiba saatnya untuk mereka untuk kembali ke hotel bintang lima yang begitu mewah di sudut kota besar negara yang sering disebut negara pecahan ICE tersebut. Dengan menaiki mobil Alpard yang tadi siang mereka tumpangi, Alex beserta gerombolan langsung meluncur menuju hotel itu.
Sesampainya di hotel mereka langsung bergegas menuju kamarnya masing-masing. Dan saat memasuki ruang kamr hotelnya, Alex langsung merebahkan badannya di kasur yang empuk beralaskan seprai berwarna putih tulang polos, yang tak lama kemudian diikuti oleh teman dekatnya.
Tanpa sadar mereka berdua tertidur sangat pulas. Mungkin mereka terlalu kecapean saat berkumpul dengan teman-teman barunya dari Mancanegara.

***

Di sisis lain, disudut kota tempat kelahiran Alex, seorang wanita setengah baya sedang meneteskan air mata dengan tersedu-sedu, dan beberapa orang yang berada disekitarnyapun ikut menangis karena melihat seorang laki-laki yang hampir tua sedang berbaring tanpa hembusan nafas di ruang tengah yang hampir dipenuhi umat-umat manusia yang ingin berbela sungkawa.
Ibunya Alex tak habis fikir mengapa sang suami sekaligus ayah dari anaknya meninggal jauh dari ponisan dokter atas penyakit yang baru-baru ini  di derita suaminya.
 “Bagaimana dengan alex? apakah ibu sudah menghubunginya?”. Tanya seorang kerabat terdekatnya.
“Belum, saya rasa saya akan memberi tahu Alex saat sudah kembali ke tanah air saja, karena saya takut mengganggu belajar Alex”. Ucap ibunya sembari menangis.
“Tapi bu menurut saya apa tak sebaiknya Alex di beritahukan sekarang saja?”. Ujar kerabat dekatnya tadi.
Ibunya hanya terdiam dengan tetesan air mata yang terus menetes di wajahnya yang masih meninggalkan aura-aura kecantikan yang dulu ia miliki saat muda.
Salah satu kerabat dekat Alex pun memberikan kabar pada Alex tanpa sepengetahuan ibunya bahwa ayahnya yang sudah mengidap penyakit platelet atau bisa di bilang penyakit kelebihan trombosit.
Alex sangat tercengang mendengar berita itu, seketika dia langsung memutuskan untuk kembali ke tanah air tanpa mempedulikan Study yang sedang dia jalani dan untuk lima bulan kedepan, karena satu bulan telah berlalu.
Sambil berderai air mata Alex pamitan pada tema-teman seperjuangannya selama satu bulan itu.
“Gue pulang yaa!, gue gak bisa ninggalin ibu sendirian tanpa ayah di saat-saat seperti ini, kalian baik-baik disini!!”. Ujarnya kepada teman-temannya.
Teman-temannya hanya terdiam dan menunduk, seakan tak ingin Alex pergi.

***
Sesampainya Alex ditanah air Indonesia, Alex langsung memeluk ibunya yang masih merenungkan kepergian suaminya sehari setelah di kebumikan.
Tanpa sadar Alex meneteskan air matnya yang saat itu masih berada dalam pelukan ibunya.
Selang beberapa hari setelah ayahnya meninggal, dan ibunya ikut bungkam tanpa kata. Ibu Alex pun membuka pembicaraan.
“Lex! sebelum bapakmu pergi meninggalkan kita, dia menitip pesan untukmu agar kamu bisa meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai pengurus pajak, bapakmu yakin kami bisa memajukan perpajakan Indonesia menjadi sangat maju dari saat sekarang.” Kata ibunya.
“tapi alexxx.” Jawab Alex.
“tapi apa Lex?, memangnya kamu tidak mau membuat ayahmu disana bahagia atas apa yang dia inginkan?”. Ucap ibunya memotong perkataaan yang akan Alex katakan.
“Ya kalo emang itu memang terbaik Alex pasti siap bu! Karena Alex juga saat di Canada berfikir tentang perpajakan Indonesia yang begitu menghawartirkan. Apalagi jika di bandingkan dengan Canada yang negaranya begitu makmur, sehingga rumah-rumah penduduknyapun di biarkan tanpa dikunci karena disana tidak ada pencuri”. Jawab Alex
“Mengapa bisa tidak ada pencuri?”. Tanya ibunya terbawa suasana.
“Ya karena disana rakyatnya sangat makmur tanpa kekurangan!” Jawab Alex.
“Bagaimana bisa kamu berfikir agar bisa memajukan perpajakan indonesia? bukankah dulu kamu tidak mau mendengar apapun yang menyangkut perpajakan ? pertanyaan ibunya bertubi-tubi
“mungkin karena Alex sudah melihat indahnya dan tertibnya negara Canada yang di sebabkan oleh penduduknya yang begitu sadar akan pentingnya membayar pajak, sehingga mereka dapat membangun dan mensejahterakan negara dengan baik dari uang pajak tersebut,, sedangkan hal tersebut sangat jauh berbeda dari Negara yang sedang kita tempati ini bu!”. Jelas Alex pada ibunya.
“Oh begitu toh lex”. Jawab ibunya.
***
Hari demi hari telah berlalu bulan demi bulan terus bergulir tahun demi tahun telah terlewati. Hingga tibalah saatnya Alex menjadi seseorang yang berguna untuk kepentingan masyarakat Indonesia, apalagi ibunya. dimana pada massa itu alex menjadi salah seorang anggota dari pemerintah yang mengurusi perpajakan negara.
Dan disanalah Alex mulai berfikir panjang untuk merubah sisitem perpajakan indonesia dimana masyarakatnya masih belum bisa mementingkan kewajiban memebayar pajak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar