PAJAK DI NEGARAKU
Hari semakin
siang, suara-suara berisik dari dalam kelas sangat terdengar jelas menyemarakan
siang yang begitu panas di hari itu, angin berhembus dengan tenangnya menuju
selah-selah setiap ruangan.
Alex berlari mengejar
guru bahasa inggris yang baru saja keluar dari ruang kelasnya.
“ibu serius nih
saya terpilih menjadi salah seorang dari mereka?”. Tanya Alex girang
“tentu saja,
bukankah sejak lama kamu sudah memimpikannya ?”. Jawab guru itu
“iya sih bu
tapi apakah saya pantas menjadi salah seorang dari mereka ?”.
“ya kamu sangat
pantas Alex, nanti sepulang sekolah kamu jangan pulang dulu, karena Bapak
kepala sekolah ingin bertemu denganmu!”.
Sambil berlalu meninggalkan Alex yang masih bergeming tanpa kata
Alex hanya terdiam saat mendengar guru bahasa inggris
itu mengucapkan kata terakh irnya. “Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan juga”.
Ucapnya dalam hati .
Kringggggggggggggg
!!!!!!!!!... Bel pulang telah berbunyi. Siswa-siswi mulai berhamburan
meninggalkan kelasnya masing-masing. Alex masih berdiam diri dikelas, tanpa dia
sadari guru bahasa inggrisnya sudah berada di dalam kelas .
“Alex coba ikut
saya keruangan kepala sekolah!”. Ucap guru bahasa inggris mendongkrak lamuan Alex
saat itu.
“Ooooh baik bu”.
Seketika Alex langsung menjawab.
Alex mengikuti
guru bahasa inggrisnya menuju ruang kepala sekolah, sembari melihat sekeliling
halaman sekolah yang sudah nampak sepi, tetapi masih menyisakan setumpuk sampah
kertas dan plastik yang masih berserakan. Dilihatnya di sudut sekolah yang jauh
dari penglihatannya seorang bapak tua yang menyapu halaman, sepertinya itu
tukang kebun yang sudah lama bekerja disekolah.
Tibalah alex di
depan pintu ruang kepala sekoalah yang
sudah terlihat tua,
“Ayo alex masuk!”.
Ucap kepala sekolah yang terlihat sudah dari tadi menunggu.
Alex
melangkahkan kakinya dengan mantap untuk masuk ke-ruang kepala sekolah itu,
tanpa mempedulikan baju yang di pakainya sudah lusuh, dan penampilan yang sudah
semerawut.
“Alex karena
kamu adalah salah satu siswa yang berprestasi, saya harap kamu mau dikirim ke Canada,
untuk pertukaran pelajar bulan besok”. Ucap kepala sekolah yang masih terlihat
muda membuka pembicaraan di siang itu.
Alex hanya
menunduk. “ya pasti mau dong, secara gitu di kirim ke Canada”. Ucapnya dalam
hati .
“Sudah kamu
jangan bingung, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk belajar”. tutur guru
bahasa inggris yang duduk di sebelahnya, seakan-akan bisa membaca pikiran anak
laki-laki yang masih duduk di bangku kelas XI SMA itu.
***
Waktu terus
bergulir, matahari semakin turun ke arah barat.
Alex pulang
ke-rumahnya dengan wajah sumringah, tetapi penampilannya masih tetap terlihat
kucel dan amurawut.
“Ehh Alex udah
pulang”. Sambut ibunya yang sedang duduk manis di sofa empuk berwarna coklat,
sembari menonton TV.
“Iya bu! ibu
tau gak aku di kirim ke Canada buat pertukaran pelajar”. Ucap Alex penuh
semangat sambil melemparkan tas ransel yang ia pakai hampir seharian ke
sekolah, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa persis di sebelah ibunya.
Seketika ibunya
membelalak dan menengok ke arah Alex yang masih terlihat sumringah itu ”Selamat
sayang, itukan mimpi kamu dari dulu” Ucap ibunya.
Alex tersenyum
sambil menaik turunkan kedua alisnya .
“Selamat yaa!,
ibu bangga mempunyai anak seperti kamu”. Kata ibunya dengan mata yang
berbinar-binar.
“Aku ke kamar
dulu ya bu!”. Sembari membawa tas yang tadi ia lemparkan ke sofa.
Ibunya tidak
menjawab dia hanya diam seribu kata, karena masih belum percaya anak satu-satunya
itu akan berangkat ke Canada untuk pertukaran pelajar.
***
Hari-hari dia
lewati seperti biasa yang selalu dia lakukan, meski ada beberapa yang berbeda
tetapi Alex terlihat semangat menjalani semuanya.
Hingga tiba
saat yang sangat di tunggu-tunggu Alex, yang membuat kedua orangtuanya sangat
bangga. Tetapi bukan hanya bangga karena
anaknya bisa menjadi salah seorang yang terpilih untuk pertukaran pelajaran
saja, bahkan mereka bangga atas prestasi yang sering dia raih.
“Saya berangkat
ya bu! dan salamkan pada ayah”. Pamit Alex yang kebetulan ayahnya sedang kerja
di luar kota.
“Iya lex ibu
pasti akan menyampaikan salammu itu, hati-hati ya lex!”. Kata ibunya sembari
meneteskaan air mata.
Alexpun
berjalan dengan membawa dua koper di tangan kanan dan kirinya serta satu tas
ransel yang selalu dia pakai ke sekolah setiap hari, menuju mobil yang akan
mengantarnya ke bandara yang begitu terkenal di kota itu.
Alex masuk ke
dalam mobil dengan perasaan yang tidak karuhan, sebab di samping dia bahagia
karna mimpinya bisa tercapai, dia sedih meninggalkan ibunya yang selalu ada
dalam hari-harinya, tetapi untuk enam bulan kedepan dia tidah bisa bersama
ibunya .
Mobil sudah
melaju, Alex masih merenung dan diam tanpa kata, padahal teman-temannya saling bercanda gurau, hingga sampai ke
stasiun yang telihat lengganag di sore itu.
Alex dan
rombongan keluar dari mobil AFV dan langsung menuju registrasi pasport untuk
cek in, mereka menunggu pemberangkatan pesawat yang akan membawanya terbang ke
Canada.
Tepat pukul 16.30
WIB pesawat yang membawa Alex dan teman-temannya lepas kandas menuju Canada.
Dalam pesawat Alex hanya terdiam membisu. Teman-temannya menjadi heran mengapa
Alex yang yang biasanya selalu ceria tapi sekarang dia hanya bisa diam dan
diam.
“Kenapa tuh si
Alex diem melulu?”. Ucap salah seorang temannya yang memakai celana jeans
berwarna biru dan di padukan dengan baju berwarna hitam bertuliskan “I LOVE YOU
CANADA” berwarna putih.
“Mana gue tau”.
Ujar teman dekat Alex yang duduknya persis di sebelah kanan Alex.
“Udahlah jangan
mikirin si Alex, mending kita tidur biar ntar kalo udah nyampe Canadanya
terlihat fresh enggak loyo” Celoteh seorang teman wanitanya.
Tujuh jam sudah
berlalu, pesawatpun akhirnya tiba di canada air. Saat turun dari pesawat
mereka sangat senang dan sangat menikmati suasana malam di Canada yang baru pukul
20.30 waktu sekitar, hingga Alexpun ikut terbawa suasana yang begitu indah.
Hari pertama
mereka lewati hanya dengan beristirahat di sebuah hotel bintang lima di Canada.
Saat malam
kedua Alex dan rombongannya berada di Canada, mereka pergi berjalan-jalan di
sekitar hotel yang mereka tempati. Mereka menjumpai sebuah kaffe dan beberapa
tempat pembelanjaan lainnya. Mereka begitu menikmati suasana malam yang penuh
dengan kerlipan lampu-lampu, terjauh dari folusi udara, tidak merasa sumpek dengan
kendaraan yang macet, yang sangat berbeda jauh dengan negara asal Alex dan
kawan-kawannya.
Saat Alex dan
teman-temannya sudah merasa kelelahan mereka langsung pulang menuju hotel
bintang lima yang mereka tempati.
***
pagi yang indah
kicauan burung-burung bergema bersautan menyemarakan suasanya yang begitu
tentram dan damai.
Sinar-sinar
surya menyapa penuh manja, mengisi lorong-lorong kegelapan yang selama ini
masih tenggelam dalam kesesatan.
Alex membuka
pintu jendela kamar hotel yang dia tempati.
Alex menghirup
udara segar pagi, lalu menghembuskan karbondioksida dari mulutnya
perlahan-lahan beberapa kali, sembari melihat pemandangan sekeliling hotel yang
terlihat indah dengan bangunan-bangunan tinggi dan mesin-mesin beroda empat
yang berjajar dengan rapih..
Seketika Alex
teringat pada suatu negeri tempat kelahirannya, yang penuh dengan polusi udara
dan kendaraan-kendaraan yang membuat setiap orang merasa penat saat melihatnya,
dan juga mengingat bencana-bencana alam yang diakibatkan oleh tumpukan sampah.
Alex merasa negeri kelahirannya itu sangat jauh berbeda dengan negeri yang saat
ini sedang ia tempati.
Alex berfikir
mungkin pemerintah indonesia belum bisa mengatur dan mengurus perpajakan,
padahal jika orang-orang yang berada di atas mau dan menyadari akan pentingnya
membayar pajak, dan para pejabat-pejabat negara tidak di butakan oleh korupsi,
sehingga masyarakat-masyarakat yang berada pada garis kemiskinan menjadi
makmur, dan kebutuhannyapun terpenuhi, mungkin indonesia sudah menjadi negara maju
khususnya di wilayah Asia Tenggara.
Tetapi
kenyataannya sangat berbeda dengan yang Alex harapkan barusan, dimana
orang-orang yang mempunyai uang tidak mau peduli akan pentingnya membayar
pajak, dan pemerintah yang memiliki tahta dan jabatan tinggi pun ikut
berpartisipasi untuk tidak mempedulikan pentingnya membayar pajak, bahkan
mereka sampai berani memakan hak masyarakat untuk memperkaya dirinya sendiri
maupun keluargannya agar dapat memuaskan dirinya dari kekayaan itu .
Alexxxxxx!!! ..
Panggil seorang teman dekatnya yang kebetulan sekamar, dari dalam ruangan
mendongkrak lamunan yang sedaritadi dia pikirkan.
“E,,,.ee,,.eeeh
iya ada apa ?” Jawab Alex kaget.
“cepetan luh
siap-siap!, bentar lagi kita ke sekolah”. Jawab temannya yang dari tadi melihat
gerak-gerik Alex dari dalam.
“Oh iya gue
lupa” tutur Alex sambil berlari kedalam dan langsung mengambil anduk untuk
pergi mandi...
Saat saat pagi
sudah hampir mau habis dan akan di gantikan oleh siang, Alex sudah siap dengan
pakaian yang begitu rapi.
“Eh tumben alex
rapih banget?” kata salah seorang temannya saat berkumpul di lobby hotel
Alex hanya
tersenyum, tetapi diiringi dengan suara tertawa teman-temannya di ruangan itu.
“Heyyy ayo
berangkat mobil jemputannya udah dateng tuh!”, ujar teman wanitanya memotong
suasana yang begitu ceria saat itu .
Seketika mereka
beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju tempat parkir mobil yang akan
mereka tumpangi.
Alex dan tiga
teman laki-lakinya beserta satu orang teman perempuannya, langsung menaiki
mobil yang berwararna hitam mengkilap itu. Saat mobil melaju, Alex dan empat
temannya merasa kagum dengan apa yang mereka lihat di balik kaca jendela mobil yang melanju dengan tenang.
Ingatan Alex
langsung kembali pada lamunannya di pagi tadi, dimana dia merasa bahwa
negaranya sangat jauh berbeda dengan apa yang sedang ia lihat barusan di balik
jendela mobil Alphard yang akan membawanya pada sebuah sekolah terkenal di Canada.
“Coba Indonesia
bisa ngurusin pajak negara yang kaya akan sumber daya alam itu, mungkin indonesia
bisa lebih maju dan lebih indah di banding negara ini”. Ujar Alex dengan mata
yang menatap ke arah bangunan-bangunan tinggi dan seekeliling jalan yang mereka
telusuri pada hari menjelang siang tersebut.
“Gue setuju tuh
sama pendapat lo barusan lex, bahkan gue heran mengapa rakyat indo nesia yang
berada di atas makin rakus aja sama uang
negara, padahal di lain sisi banyak juga rakyat indonesia dari kalangan
perekonomian yang rendah semakin melarat”. Ucap teman sekamarnya.
“Rasanya gue
pengen deh negeri tempat kita lahir itu menjadi seperti ini, dimana orang-orang
yang mempunyai gaji tetap, sebelum gajinya di alirkan pada seorang pekerja,
perusahannya tersebut selalu memotong gaji karyawan tersebut untuk di bayarkan
pada kas negara (pajak penghasilan)”. Tutur teman wanitanya.
“Percuma dong
kalo masyarakatnya selalu membayar pajak dengan tertib, tapi pejabat-pejabat
negaranya masih terbutakan oleh kurupsi”. ujar teman Alex yang duduk di depan
dengan seorang supir.
Sedangkan kedua
teman alex lainnya tidak ikut berbicara pada argumen saat itu, mereka hanya
memainkan game pada ipad masing-masing.
“Kalian lagi
pada ngomongin apa sih?”. Celoteh salah satu temannya yang sedang bermain game
itu.
“Yah lo kemana
aja, dari tadi kita tuh lagi ngebandingin Indonesia sama Canada”. Jawab Alex
kesal.
“Ha... .ha... ha”.
Temannya tertawa.
“Loh kok malak
ketawa?”. Ucap Alex semakin kesal.
“Yah lagian lo ngebandingin
indonesia sama Canada sih, ya jelas jauh beda dong!”. Tutur temannya yang
sedang tertawa.
Alex hanya
terdiam, merenungkan mengapa negara Indonesia seperti itu.
***
Mobil Alpard
itu telah sampai di sebuah sekolah terkenal yang bernama “BRANKSOME HALL” yang mereka
tuju. Mereka langsung keluar dari mobil dan menuju ruang kelas yang sudah
ditentukan. Dimana kelas itu dipenuhi ratusan siswa-siswi dari berbagai negara
untuk mengikuti pertukaran pelajar.
Waktu semakin
berlalu mereka saling bercengkrama dan bercanda gurau.
Tak terasa hari
sudah berganti menjadi sore, dan tiba saatnya untuk mereka untuk kembali ke
hotel bintang lima yang begitu mewah di sudut kota besar negara yang sering
disebut negara pecahan ICE tersebut. Dengan menaiki mobil Alpard yang tadi
siang mereka tumpangi, Alex beserta gerombolan langsung meluncur menuju hotel
itu.
Sesampainya di
hotel mereka langsung bergegas menuju kamarnya masing-masing. Dan saat memasuki
ruang kamr hotelnya, Alex langsung merebahkan badannya di kasur yang empuk
beralaskan seprai berwarna putih tulang polos, yang tak lama kemudian diikuti
oleh teman dekatnya.
Tanpa sadar mereka
berdua tertidur sangat pulas. Mungkin mereka terlalu kecapean saat berkumpul dengan
teman-teman barunya dari Mancanegara.
***
Di sisis lain,
disudut kota tempat kelahiran Alex, seorang wanita setengah baya sedang
meneteskan air mata dengan tersedu-sedu, dan beberapa orang yang berada
disekitarnyapun ikut menangis karena melihat seorang laki-laki yang hampir tua
sedang berbaring tanpa hembusan nafas di ruang tengah yang hampir dipenuhi
umat-umat manusia yang ingin berbela sungkawa.
Ibunya Alex tak
habis fikir mengapa sang suami sekaligus ayah dari anaknya meninggal jauh dari
ponisan dokter atas penyakit yang baru-baru ini di derita suaminya.
“Bagaimana dengan alex? apakah ibu sudah
menghubunginya?”. Tanya seorang kerabat terdekatnya.
“Belum, saya rasa
saya akan memberi tahu Alex saat sudah kembali ke tanah air saja, karena saya
takut mengganggu belajar Alex”. Ucap ibunya sembari menangis.
“Tapi bu
menurut saya apa tak sebaiknya Alex di beritahukan sekarang saja?”. Ujar
kerabat dekatnya tadi.
Ibunya hanya
terdiam dengan tetesan air mata yang terus menetes di wajahnya yang masih
meninggalkan aura-aura kecantikan yang dulu ia miliki saat muda.
Salah satu kerabat
dekat Alex pun memberikan kabar pada Alex tanpa sepengetahuan ibunya bahwa
ayahnya yang sudah mengidap penyakit platelet atau bisa di bilang
penyakit kelebihan trombosit.
Alex sangat
tercengang mendengar berita itu, seketika dia langsung memutuskan untuk kembali
ke tanah air tanpa mempedulikan Study yang sedang dia jalani dan untuk lima
bulan kedepan, karena satu bulan telah berlalu.
Sambil berderai
air mata Alex pamitan pada tema-teman seperjuangannya selama satu bulan itu.
“Gue pulang yaa!,
gue gak bisa ninggalin ibu sendirian tanpa ayah di saat-saat seperti ini,
kalian baik-baik disini!!”. Ujarnya kepada teman-temannya.
Teman-temannya
hanya terdiam dan menunduk, seakan tak ingin Alex pergi.
***
Sesampainya Alex
ditanah air Indonesia, Alex langsung memeluk ibunya yang masih merenungkan
kepergian suaminya sehari setelah di kebumikan.
Tanpa sadar Alex
meneteskan air matnya yang saat itu masih berada dalam pelukan ibunya.
Selang beberapa
hari setelah ayahnya meninggal, dan ibunya ikut bungkam tanpa kata. Ibu Alex
pun membuka pembicaraan.
“Lex! sebelum
bapakmu pergi meninggalkan kita, dia menitip pesan untukmu agar kamu bisa
meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai pengurus pajak, bapakmu yakin kami bisa
memajukan perpajakan Indonesia menjadi sangat maju dari saat sekarang.” Kata
ibunya.
“tapi alexxx.”
Jawab Alex.
“tapi apa Lex?,
memangnya kamu tidak mau membuat ayahmu disana bahagia atas apa yang dia
inginkan?”. Ucap ibunya memotong perkataaan yang akan Alex katakan.
“Ya kalo emang
itu memang terbaik Alex pasti siap bu! Karena Alex juga saat di Canada berfikir
tentang perpajakan Indonesia yang begitu menghawartirkan. Apalagi jika di
bandingkan dengan Canada yang negaranya begitu makmur, sehingga rumah-rumah
penduduknyapun di biarkan tanpa dikunci karena disana tidak ada pencuri”. Jawab
Alex
“Mengapa bisa
tidak ada pencuri?”. Tanya ibunya terbawa suasana.
“Ya karena
disana rakyatnya sangat makmur tanpa kekurangan!” Jawab Alex.
“Bagaimana bisa
kamu berfikir agar bisa memajukan perpajakan indonesia? bukankah dulu kamu
tidak mau mendengar apapun yang menyangkut perpajakan ? pertanyaan ibunya
bertubi-tubi
“mungkin karena
Alex sudah melihat indahnya dan tertibnya negara Canada yang di sebabkan oleh
penduduknya yang begitu sadar akan pentingnya membayar pajak, sehingga mereka
dapat membangun dan mensejahterakan negara dengan baik dari uang pajak tersebut,,
sedangkan hal tersebut sangat jauh berbeda dari Negara yang sedang kita tempati
ini bu!”. Jelas Alex pada ibunya.
“Oh begitu toh
lex”. Jawab ibunya.
***
Hari demi hari
telah berlalu bulan demi bulan terus bergulir tahun demi tahun telah terlewati.
Hingga tibalah saatnya Alex menjadi seseorang yang berguna untuk kepentingan
masyarakat Indonesia, apalagi ibunya. dimana pada massa itu alex menjadi salah
seorang anggota dari pemerintah yang mengurusi perpajakan negara.
Dan disanalah
Alex mulai berfikir panjang untuk merubah sisitem perpajakan indonesia dimana
masyarakatnya masih belum bisa mementingkan kewajiban memebayar pajak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar