Satu hal penting dalam Islam adalah akhlaq, kedudukan akhlaq
dalam Islam adalah bagaikan buah dari pohon. Seorang muslim yang telah melatih
dirinya dalam sholat dan puasa dengan benar akan menjadi Muslim yang berakhlaq
mulia. Sholat, zakat, puasa merupakan tarbiyah atau latihan dalam mendidik diri
menjadi insan yang berakhlaq mulia (berbudi pekerti)
Apa sajakah Akhlaq seorang muslim itu? Khuluqul Muslim
dijabarkan sebagai berikut:
Ikhlas
Ikhlas merupakan suasana hati seorang muslim yang kosong
dari keinginan-keinginan duniawi seperti mendapatkan pujian, memperoleh
penghargaan, supaya tampak baik di mata orang lain, ikhlas adalah hati yang
menggerakkan badan agar melakukan perbuatan baik dengan niat murni lillahi
ta’ala hanya mengharap keridho’an Allah ‘Azza wa Jalla. Bukanlah perbuatan
ikhlas kalau kita beribadah supaya dilihat mertua, juga bukan ikhlas kalau kita
bekerja dengan baik agar bos senang, bercakap manis agar atasan suka, ini
berarti masih menggantungkan harapan kepada selain Allah. Muslim yang ikhlas
hanya bergantung pada Allah, bekerja untuk mencari nafkah keluarga dengan
niatan hanya karena Allah. Beribadah ikhlas walaupun tidak dilihat manusia
bahkan di tempat tersembunyi sekalipun, hanya semata-mata mengharap keridho’an
Allah.
Qona’ah
Seorang muslim yang qona’ah selalu mencukupkan apa yang ada,
tidak ngoyo dalam mencari harta dunia, jauh dari sifat menghalalkan segala
macam cara untuk meraih harta. Qona’ah berarti bersyukur dengan rizqi yang
telah diberikan oleh Allah kepada kita. Qona’ah berarti menjauhkan diri dari
sifat ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain, merasa cukup dengan harta
sendiri. Namun qona’ah bukan berarti malas, tidak berusaha, seorang yang
qona’ah tetap rajin menjemput rizqi Allah, berusaha keras meningkatkan mutu
kehidupan sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah, sedikit atau banyak tetap
disyukuri. Namun sudah merupakan sunatullah orang yang bekerja keras dan pintar
(work hard and work smart) akan banyak berhasil ketimbang gagal, kalaupun
pernah gagal itu hanyalah pembelajaran saja sehingga bisa berhasil di kemudian
hari.
Zuhud
Zuhud artinya menjauhi. Muslim yang baik adalah muslim yang
jauh dari terlalu sibuk memikirkan dunia. Islam adalah agama yang seimbang,
seorang muslim diperbolehkan mencari ma’isyah penghidupan di dunia namun harus
tetap ingat dengan ibadah mempersiapkan kehidupan di kampung akhirat. Dunia dan
akhirat adalah dua hal yang saling tarik menarik, bila seseorang terlalu sibuk
dengan urusan dunia, semisal pekerjaan kantor atau perdagangan, biasanya banyak
melalaikan kehidupan akhirat, lupa dengan kehidupan akhirat. Demikian juga bila
manusia terlalu sibuk dengan akhirat biasanya akan melalaikan kegiatan bekerja
mencari ma’isyah penghidupan. Islam menganjurkan agar kita bisa membagi adil
urusan dunia dan akhirat, bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan
hidup selamanya namun bersholatlah seakan-akan engkau akan mati besok. Idealnya
adalah seorang muslim dan muslimah sebelum bekerja niatkan bekerja itu untuk
mardhatillah mencari keridho’an Allah. Jadi bekerja lillahi ta’ala.
Amanah
Amanat adalah segala hak yang dipertanggung jawabkan kepada
seseorang, baik hak-hak itu milik Allah (haqqullah) maupun hak hamba (haqqul
adami), baik berupa pekerjaan maupun perkataan dan kepercayaan hati. Amanat itu
meliputi segala yang diamanatkan kepada kita, bisa berupa jabatan, benda, harta
atau kepercayaan untuk melakukan sesuatu. Amanat harus kita pelihara dan kita
tunaikan dengan benar.
Rasulullah SAW bersabda:
” Kamu sekalian pemimpin dan kamu sekalian akan diminta
pertanggungjawaban tentang apa yang kamu pimpin, imam (pejabat) adalah pemimpin
dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya, laki-laki
(suami) adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan ia akan ditanya
tentang apa yang dipimpinnya. Perempuan (istri) juga pemimpin dalam
mengendalikan rumah tangga suaminya, dan ia juga akan ditanya tentang apa yang
dipimpinnya, dan pembantu rumah tangga juga pemimpin dalam mengawasi harta
benda majikannya, dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR.
Bukhari)
Jadi semua orang akan ditanya tentang urusannya, tentang apa
yang ada dalam wilayah kekuasannya. Bila ia seorang kepala rumah tangga akan
ditanya tentang keluarganya, bila ia seorang pejabat akan ditanya tentang tugas
jabatannya apakah telah ditunaikan dengan baik, apalagi bila ia kepala negara
akan ditanya tentang negara yang menjadi tugasnya.
Pernah suatu ketika khalifah Umar bin Khattab merasa
terganggu dan bahkan selama setahun tidak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara
seekor kambing milik peternak hilang di pinggir sungai. Umar merasa tidak bisa
melindungi keamanan harta rakyatnya sehingga ia tidak bisa tidur sampai kambing
yang hilang itu ditemukan. Dan benar, kambing itu ditemukan 1 tahun kemudian.
Demikian lah pejabat yang amanah akan merasa peduli terhadap segala kondisi
rakyat dan negaranya. Tidak pernah mengecilkan permasalahan apalagi melempar
tanggung jawab.
Allah berfirman yang artinya:
” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (S. An Nisaa: 58)
Contoh indah dalam dunia Islam terjadi pada zaman Nabi dan
para sahabat, keadilan ditegakkan dengan benar, tidak tebang pilih, yang
terbukti salah dihukum dan yang terbukti tidak bersalah dilepaskan. Pejabat,
rakyat, orang kaya, orang miskin sama kedudukannya di depan hukum Islam.
Rajaa’ dan Khauf
Rajaa’ artinya berharap sedangkan khauf artinya takut.
Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak pernah lepas dari masalah, tidak
ada orang yang hidup tanpa masalah. Ada orang yang penat karena tidak mempunyai
pekerjaan, menganggur dan bosan dengan keadaan diri, sementara orang lain ada
yang sudah bekerja namun merasa tidak cocok dengan pekerjaannya, dengan
lingkungan ia bekerja, tidak cocok dengan teman-teman satu profesi. Di sisi
lain ada orang yang bingung karena anaknya banyak, bingung memikirkan masa
depan, sementara ada orang yang bingung karena belum juga dikarunia anak. Yang
bekerja wiraswasta ingin menjadi PNS sedangkan yang pns ingin menjadi
wirasawasta. Itulah kehidupan, tak ayal lagi karena banyaknya masalah yang
muncul dalam kehidupan terkadang manusia merasa takut dengan kehidupannya,
khawatir dengan masa depannya, khawatir dengan penghasilannya, khawatir dengan
kariernya, khawatir…..khawatir.
Ketakutan dan kekhawatiran itu seringkali menimbulkan
dorongan bagi manusia untuk mencari pegangan, ia mencari harapan untuk
menggantungkan diri dan kehidupannya, untuk memperbaiki nasibnya. Nah bagi
seorang muslim sudah diberikan tuntunan yang jelas bila ia takut maka kembali
kepada Tuhannya, sholat menyembah-Nya, dzikir mengingat-Nya. Ia bersimpuh di
depan Allah yang maha besar, hanya Allah yang maha besar sedangkan selain Allah
itu kecil. Masalah itu kecil, karier itu kecil, uang itu kecil, sehingga tidak
perlu lagi takut dan khawatir kepada yang kecil-kecil. Hanya kepada Allah kita
boleh takut, takut melanggar larangan-Nya, takut mendapatkan murka-Nya. Sebab
apa yang ada dalam kehidupan dunia ada akhirnya. Karier ada akhirnya yaitu
pensiun, masalah pengangguran ada akhirnya setelah kita memperoleh pekerjaan
atau merintis usaha, masalah anak ada akhirnya setelah kita memperoleh anak,
masalah anak banyak ada akhirnya setelah anak-anak mentas dan memperoleh
pekerjaan atau merintis wirausaha.
Saat memperoleh masalah, seorang muslim akan menggantungkan
dirinya total kepada Allah SWT, ia meminta pertolongan, ia berusaha, ia
berharap hanya kepada Allah. Berdo’a hanya kepada Allah, berusaha dengan niat
mencari keridhoan Allah, bertawakkal hanya kepada Allah. Allah tidak akan
menyia-nyiakan amal seorang hamba, ia akan menjawab do’a hamba-hamba-Nya. Di
sisi Allah semua masalah itu ada solusinya. Penyakit yang divonis dokter tidak
dapat diobati seperti jantung koroner, gagal ginjal, kanker dan lain-lain,
dapat sirna dan penderita dapat sembuh sehat wal ‘afiat bila Allah menghendaki.
Maka dari itu gantungkanlah harapan kepada Allah, hanya takutlah kepada Allah.
Dengan jalan itu kita akan selamat dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
Ihsan
Ihsan artinya adalah berbuat kebaikan. Muslim yang baik
selalu berusaha berbuat kebaikan untuk dirinya, keluarganya, dan untuk
orang-orang di sekitarnya. Bila ia orang yang memiliki kelebihan harta, ia tak
segan untuk mensedekahkan hartanya di jalan Allah. Bila ia melihat tetangganya
kekurangan, dengan ringan tangannya mengulurkan bantuan uang kepadanya dalam
upaya meringankan beban hidup tetangga. Ia bantu adik-adiknya bersekolah
sehingga memperoleh ilmu yang bermanfaat. Kalau ia berwirausaha, ia niatkan
usahanya lillahi ta’ala sehingga ketika usaha telah membesar, ia bantu saudara
dan temannya untuk ikut bekerja bersamanya, bersama-sama menjemput rizqi dari
Allah.
Bila seorang muslim belumlah lagi berkelimpahan harta, yang
ada hanyalah tenaga, ia sumbangkan tenaganya untuk menolong saudara dan teman
serta tetangga. Ia bantu teman dalam membersihkan lingkungan dari sampah. Ia
bantu kawan dalam membangun rumah, ia tolong teman yang kebetulan mobilnya
mogok di tengah jalan. Ia bantu memperbaiki rumah yang bocor, atau memperbaiki
masjid yang atapnya rusak. Itu semua dengan niat lillahi ta’ala. Ia tidak
mengharapkan upah dari bantuannya, ia hanya mengharapkan ridho Allah SWT.
Orang yang ihsan tidak butuh menampak-nampakkan amalnya,
orang yang ihsan tidak meminta agar namanya disebut-sebut. Orang yang ihsan
berusaha menyembunyikan amal kebaikannya. Ia berusaha menjauhi pujian karena
semua yang ia lakukan berlandaskan ikhlas hanya berharap kepada Allah. Orang
yang betul-betul ihsan kadangkala orang tak merasa keberadaannya, karena ia
sepi dari pamer kebaikan, namun orang akan merasa kehilangan manakala ia pergi
meninggalkan masyarakatnya. Orang yang ihsan akan menumbuhkan kebahagiaan dalam
diri dan keluarganya, menimbulkan ketenangan dalam masyarakatnya.
Pantai
Lautan Kesabaran
akhlaq
bunga akhlaq
Sabar
Sabar ialah tahan menderita keadaan yang tidak disenangi
dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah. Bukanlah disebut sabar, orang
yang menahan diri dengan terpaksa, tetapi sabar yang hakiki ialah sabar yang
berdiri di atas kepasrahan kepada Allah dan menerima ketetapan Allah dengan
lapang dada.
Nabi Muhammad bersabda:
“Bersabar adalah cahaya yang gilang gemilang.” (Hadits
Riwayat Muslim)
Sabar merupakan modal bagi muslimin dan muslimat untuk mencapai
keberhasilan di dunia dan di akhirat, sebab segala sesuatu pasti ada cobaannya.
Orang berbuat baik juga ada cobaannya, orang berwirausaha ada cobaannya,
kondisi susah ada cobaan, kondisi senang ada cobaan. Tidak mampu kita melalui
kehidupan tanpa modal kesabaran.
Allah SWT berfirman yang artinya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, keurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan :”Innaa lillaahi wa innaa
ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan
rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Surat Al Baqarah, ayat 155-157)
